SYAIRSYAIR PENDAMPING Sumber : Indonesia Tipitaka Center 1(7). Setelah mengalami berbagai macam penderitaan dan berbagai macam kebahagiaan dalam berbagai kehidupan500, aku meraih Pencerahan Mandiri yang luhur. 2(8). Setelah memberikan dana-dana yang sepatutnya diberikan501, setelah memenuhi sila secara keseluruhan, setelah melakukan Kesempurnaan dalam pelepasan, aku mencapai Pencerahan Kamis 01 November 2012. Dhammapada Bab I Yamaka Vagga - Syair Kembar Posted by . hinstinct SuttaPiṭaka, berisi kumpulan syair-syair pendek. Kitab Dhammapada yang sangat populer, terdiri dari 423 syair dan dikelompokkan dalam 26 Bab. Dikatakan bahwa Buddha Yang Mahamulia membabarkan Dhamma dalam bentuk syair ini dalam 305 kesempatan. Dhammapada artinya jalan atau petunjuk Dhamma, Aṭṭhakatha artinya penjelasan. PtTB. DHAMMA SEBAGAI PEDOMAN HIDUP Dhammaṁ care sucaritaṁ, na taṁ duccaritaṁ care; Dhammacāri sukhaṁ seti, asmiṁ loke paramhi seseorang hidup sesuai dengan Dhamma dan tidak menempuh cara-cara jahat, barang siapa hidup sesuai dengan Dhamma, maka ia akan hidupbahagia di dunia ini maupun di dunia selanjutnya.Kitab Suci Dhammapada Syair 169 DOWNLOAD AUDIO Kehidupan kita sebagai manusia selayaknya dijalani sesuai dengan ajaran kebajikan Dhamma yang sudah diajarkan oleh Sang Buddha, sehingga hidup menjadi tidak sia-sia. Kehidupan manusia yang bijaksana dapat dikatakan tidak sia-sia karena orang bijaksana sudah jelas memiliki Dhamma di dalam dirinya. Sedangkan Dhamma tidak akan dimiliki oleh orang yang tidak bijaksana karena ia tidak pernah merasa tertarik dengan Dhamma sehingga membuat hidupnya menjadi sia-sia karena tidak bisa memahami dan mengerti kebenaran akan hidup dan kehidupan ini. Dhamma sebagai ajaran kebenaran merupakan jalan yang sudah ditunjukkan oleh Sang Buddha sebagai jalan untuk menempuh hidup yang lebih baik dan bahagia serta untuk mencapai tujuan hidup yang lebih tinggi yaitu Nibb?na. Menjalani kehidupan sebagai perumah tangga bukan berarti tidak punya kesempatan untuk praktik Dhamma. Kehidupan ini adalah kesempatan yang paling baik karena kita lahir sebagai manusia dan bertemu dengan Dhamma. Kondisi seperti ini hendaknya dijalani dengan sebaik-baiknya untuk memperbaiki hidup kita lebih baik dan mulia saat ini dan di masa mendatang. Dalam kehidupan ini hendaknya Dhamma kita gunakan sebagai pedoman hidup kita yang mengharapkan kehidupan yang bahagia. Dengan begitu kita semua memiliki tugas untuk belajar dan praktik Dhamma agar hidup kita senantiasa damai dan bahagia. Dhamma itu harus kita kembangkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita mendapatkan manfaat dari Dhamma. Di dalam Sa?yutta Nik?ya, Sang Buddha menjelaskan bahwa ada empat Dhamma yang harus dikembangkan sebagai seorang perumah tangga dalam kehidupan sehari-hari yaitu adalah kejujuran dan selalu menepati janji kepada orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran sulit ditemukan namun bila kita memilikinya kita akan mudah mendapatkan kepercayaan orang lain. Dalam syair Dhammapada menjelaskan kepercayaan adalah saudara yang paling baik. Jika di dalam diri kita tidak ada kejujuran maka kita akan sering berbohong, berbohong adalah sila ke-4 dari Pañcas?la Buddhis. Orang yang melanggar salah satu dari Pañcas?la Buddhis yaitu sila ke-4 yang tidak peduli dengan kehidupan mendatang, maka ia akan selalu melakukan kejahatan. Oleh karena itu, Sang Buddha juga menasihati kita dalam syair Dhammapada 223 bahwa “kalahkan kebohongan dengan kejujuran”. adalah pengendalian pikiran yang baik. Pikiran adalah sumber dari segala perbuatan yang kita lakukan, sedangkan perbuatan itu sendiri yang menentukan diri kita bahagia atau menderita. Pikiran adalah salah satu dari tiga pintu perbuatan yaitu pikiran, ucapan, dan perbuatan jasmani. Pikiran adalah penguasa dan memiliki peran pertama dalam menentukan arah kehidupan kita. Sang Buddha mengajarkan di dalam Dhammapada syair 1 dan 2 bahwa “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikuti-nya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menarik-nya”. Dan sebaliknya, Sang Buddha juga menjelaskan secara gamblang pada syair ke-2 “pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran baik, maka kebahagiaan akan mengikuti-nya, bagaikan bayang-bayang yang tak akan meninggalkan bendanya”. adalah kesabaran dalam menghadapi setiap persoalan yang sulit. Sang Buddha menjelaskan di dalam syair Dhammapada 184 bahwa “kesabaran adalah praktik bertapa paling tinggi”. Kesabaran dibutuhkan untuk mencapai cita-cita tertinggi atau pencerahan. Kesabaran adalah senjata kita dalam menghadapi segala bentuk fenomena yang sulit dan tidak menyenangkan. Setiap kondisi yang tidak menyenangkan adalah guru terbaik untuk melatih kesabaran kita. Kesabaran adalah salah satu dari sepuluh paramita yang harus disempurnakan oleh seorang calon Buddha untuk bisa mencapai kesempurnaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita harus melatih kesabaran ketika orang lain merendahkan kita, menghina, men-cela, menyakiti, membenci ini adalah kondisi terbaik untuk selalu bersabar dengan senantiasa terima kasih anda sudah mematangkan kamma buruk saya, dan selamat anda sedang menanam kamma buruk yang baru’. adalah kemurahan hati terhadap mereka yang membutuhkan pemberian. Kemurahan hati yang paling dasar yang tidak membutuhkan biaya mahal adalah memberikan senyuman pada orang lain, memberikan ucapan-ucapan yang me-nyenangkan pada orang lain atau dengan memberikan 3 S, yaitu senyum, sapa, dan salam, ini adalah cara yang paling mudah. Di dalam syair Dhammapada 223, Sang Buddha menasihati kita bahwa “kalahkan kekikiran dengan kemurahan hati”, kemurahan hati tidak akan dimiliki oleh orang-orang yang batinnya diliputi oleh kekikiran sehingga kita harus mengalahkannya dengan berbagi atau belajar melepas sedikit demi sedikit. Dengan cara ini kekikiran dapat kita singkirkan men-jadi dermawan. Selain itu juga di dalam Dhammapada syair 242, Sang Buddha menjelaskan bahwa “kekikiran adalah noda bagi seorang dermawan”. Jika kita memiliki sifat belas kasih, maka kita akan memahami kondisi orang lain yang membutuhkan bantuan kita sehingga akan muncul rasa ingin membantu tetapi akan menjadi sulit bagi mereka yang memiliki noda pelit dan kikir akan sulit untuk berbagi. Dhamma adalah jalan yang ditunjukkan oleh Sang Buddha dengan demikian dalam menjalani proses hidup ini kita senantiasa menggunakan Dhamma sebagai pedoman hidup untuk diterapkan dalam praktik nyata di kehidupan sehari-hari. Apabila kita ingin sampai tujuan dengan aman dan cepat, maka kita harus melewati jalan tersebut. Dhamma sebagai jalan bisa diibaratkan sebagai aplikasi GPS atau Maps. Buddha sendiri adalah pembuat aplikasi GPS-Nya, Dhamma adalah aplikasi GPS-nya, dan Sa?gha adalah orang yang menggunakan aplikasi GPS-nya dengan tepat sehingga bisa sampai pada tujuan yang diinginkan. Jika kita pengguna GPS tidak mengikuti petunjuk yang di arahkan, maka kita akan semakin jauh dari tujuan dan tidak bisa sampai pada tujuan dengan selamat. Demikian juga dengan Dhamma, bila kita menyeleweng dari Dhamma, maka kita akan semakin tersesat dan jauh dari tujuan, tetapi jika kita menjalankan mengikuti petunjuk dari Dhamma, maka kita akan bisa selamat dari derita dan memperoleh bahagia yang merupakan tujuan semua makhluk dan dapat merealisasikan kebebasan Nibb? Oleh Bhikkhu CattasenoMinggu, 16 Februari 2020 Hidup ini sangat singkat, usia kita semakin bertambah dan kita pun semakin tua kekuatan menjadi lemah dan kita semakin dekat dengan kematian. Cobalah untuk merenungkan tentang hal ini sedikit. Mulailah untuk melihat ke dalam diri sendiri. Sampai pada hari ini, sudah tidak terhitung lamanya kita berada di alam sa?sara ini untuk mencari kebahagiaan, tetapi kenyataannya lebih banyak penderitaan yang kita dapatkan. Sekarang ini adalah kesempatan yang baik, di mana kita jadi manusia dan bertemu dengan Dhamma ajaran Sang Buddha. Kesempatan ini adalah hal yang sulit untuk diperoleh tapi walaupun sulit kita sudah mendapatkannya, oleh sebab itu berjuanglah sungguh-sungguh selama kesempatan masih ada. Setidaknya kita berusaha untuk tidak jatuh ke empat alam menyedihkan. Bergegaslah untuk berbuat kebajikan, karena bagaimanapun hidup di dunia ini tidak kekal. Hidup ini tidak hanya untuk mencari harta, kedudukan, perolehan, dan ketenaran. Meski memiliki kekayaan sebanyak apa pun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang bisa dibawa pergi. Hanya kamma baik dan kamma buruklah yang akan setia menjadi pengikut menuju kehidupan berikutnya. Kalau kita memiliki tabungan kamma baik yang banyak, maka akan dapat mengantarkan kita ke alam yang bahagia dan jika tidak, maka kita akan jatuh ke alam menderita. Masihkah kita akan menunda waktu untuk berbuat kebajikan? Kita tidak tahu masih berapa lama sisa kehidupan yang kita miliki di dunia ini, dan kita juga tidak tahu sudah berapa banyak saldo kebajikan yang kita miliki. Oleh karena itu jangan menunda-nunda waktu, lakukanlah perbuatan baik selama kita bisa. Berbuat baik bisa dengan berdana, menjalankan moralitas, dan mengembangkan batin. Ada sebuah perumpamaan tentang gagak yang malang. Kisah ini di ambil dari isi Sona-Jataka No. 529. Suatu ketika seekor burung gagak bodoh melihat seekor bangkai gajah yang besar yang mengapung dan terbawa arus di sungai Gangga. Diliputi oleh keserakahan, dia berpikir, “itu adalah gudang makanan yang luar biasa, aku akan tinggal di sana siang dan malam dan menikmati kebahagiaan hidup.” Maka, hanya dia yang terbang ke sana dan berdiam di bangkai tersebut. Siang dan malam dia hanya menikmati kebahagiaan hidupnya dengan makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Dia bagaikan mabuk kesenangan, sehingga walaupun di sepanjang pinggir sungai terdapat banyak desa-desa makmur dengan vihara-viharanya yang indah dan megah dilewatinya, dia tidak menghiraukannya sama sekali, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalannya waktu, bangkai tersebut semakin habis dan dia pun semakin tua serta sulit terbang. Akhirnya, ketika bangkai tersebut sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana, bangkai tersebut tidak dapat lagi menopangnya. Dia berusaha terbang. Dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak olehnya. Di sana, di tengah lautan luas dia terjatuh dan langsung dimangsa oleh para penghuni lautan ganas. Makna dari kisah gagak yang malang ini adalah sebagian manusia yang bodoh dan malas bagaikan si burung gagak bodoh. Mereka terlahir sebagai manusia dengan keadaan yang baik dan berkecukupan bagaikan si gagak yang mendapatkan seekor bangkai gajah yang besar. Mereka siang dan malam selalu berusaha untuk memuaskan nafsu indranya tanpa memedulikan bahwa usianya semakin tua dan semakin dekat dengan kematian. Hal ini bagaikan si gagak yang siang dan malam hanya makan dan minum sepuasnya tanpa memedulikan bahwa bangkai gajah terus bergerak menuju lautan luas. Mereka tidak menghiraukan keberadaan Buddha Sasana dan juga sama sekali tidak terpikir oleh mereka untuk melakukan kebajikan. Hal ini bagaikan si gagak yang tidak menghiraukan desa-desa makmur dengan vihara-vihara yang indah dan megah, bahkan untuk sekadar meliriknya pun tidak terbersit di pikirannya. Seiring dengan berjalan-nya waktu, berkah kamma baiknya mereka semakin berkurang, usianya semakin tua, dan kemampuannya dalam berusaha juga semakin berkurang. Hal ini bagaikan si gagak yang mulai kehabisan bangkai, usianya semakin tua, dan sulit terbang. Berada di akhir kehidupan, jauh dari kebajikan, dan kamma baik juga tidak kuat lagi menyokong hidupnya. Hal ini bagaikan si gagak yang sampai di tengah lautan jauh dari mana-mana dan bangkai tempatnya berdiam juga tidak dapat lagi menopangnya. Pada umumnya, ketika mereka telah tua, di saat menjelang kematian, mereka baru sadar dan menyesal, mereka berusaha bertahan hidup dan melakukan kebajikan, tetapi semuanya telah terlambat. Hal ini bagaikan si gagak yang berusaha terbang dengan segala kemampuannya, tetapi tidak ada satu pulau pun yang nampak. Mereka meninggal dalam kegelisahan dan kebingungan, buah kamma buruk menyerbunya, dan mereka terjatuh ke alam menderita yang sangat-sangat menderita. Hal ini bagaikan si gagak terjatuh di tengah lautan luas dan langsung dimangsa oleh penghuni lautan yang ganas. Demikianlah kebiasaan sebagian besar manusia, kita sering lupa bahwa kita hidup di dunia ini hanya sementara. Ketika masih muda dan kuat menyia-nyiakan kesempatan untuk berlatih dalam kebaikan, ketika tua dan lemah baru ingat betapa pentingnya berlatih, betapa pentingnya kebajikan tapi sayang mereka sudah terlalu tua, mau datang ke vihara sudah tidak bisa berjalan, mau berbuat baik sudah terlalu lemah. Akhirnya hanya bisa menjalani sisa hidup dengan penuh kegelisahan dan kekhawatiran. Oleh karena itu Buddha menyampaikan dalam syair Dhammapada “bergegaslah berbuat kebajikan, dan kendalikan pikiranmu dari kejahatan, barang siapa lamban berbuat bajik, maka pikirannya akan senang dalam kejahatan”. KISAH “KATA-KATA KEBAHAGIAAN SANG BUDDHA” Dhammapada XI 153-154 Dua syair ini, syair 153 dan 154 Kitab Suci Dhammapada, adalah ungkapan tulus dan mendalam dari kebahagiaan yang dirasakan Sang Buddha pada saat Beliau mencapai Penerangan Sempurna. Syair-syair ini diulang di Vihara Jetavana atas permintaan dari Yang Ariya Ananda. Pangeran Siddhattha, dari keluarga Gotama, anak dari Raja Suddhodana dan Ratu Maya dari kerajaan suku Sakya, meninggalkan keduniawian pada usia 29 tahun dan menjadi pertapa untuk mencari Kebenaran Dhamma. Selama 6 tahun Beliau mengembara di Lembah Gangga, menemui pemimpin-pemimpin agama yang terkenal, belajar ajaran dan metodenya. Beliau hidup dengan keras dan menyerahkan dirinya pada peraturan pertapaan yang keras. Tetapi ia merasa semua latihan itu tidak berguna. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk menemukan kebenaran dengan jalannya sendiri, dan menghindari dua jalan ekstrim dari pemuasan kenikmatan yang berlebihan dan penyiksaan diri sendiri. Beliau menemukan "Jalan Tengah", yang menuju kebebasan mutlak, nibbana. Jalan Tengah ini adalah jalan mulia berfaktor delapan, yaitu Pengertian Benar, Pikiran Benar, Perkataan Benar, Perbuatan Benar, Mata pencaharian Benar, Daya-upaya Benar, Kesadaran Benar, dan Konsentrasi Benar. Pada suatu sore, duduk di bawah pohon Bodhi, di tepi Sungai Neranjara, Pertapa Siddhattha Gotama mencapai "Penerangan Sempurna" Bodhi-nana atau Sabbannutanana pada usia tiga puluh lima tahun. Pada saat malam jaga pertama, Siddhattha mencapai kemampuan batin pengetahuan kelahiran-Nya sendiri yang lampau Pubbenivasanussati-nana. Pada saat malam jaga kedua, Beliau mencapai kemampuan batin pengetahuan penglihatan tembus Dibbacakkhu-nana. Kemudian pada malam jaga ketiga, Beliau memahami hukum sebab akibat yang saling bergantungan Patticcasamuppada dalam hal kemunculan Anuloma demikian pula pengakhiran Patiloma. Menjelang fajar, Siddhattha Gotama dengan kemampuan akal-budinya, dan pandangannya yang terang mampu menembus pengetahuan "Empat Kebenaran Mulia". Empat Kebenaran Mulia adalah kebenaran mulia tentang penderitaan Dukkha Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang asal mula penderitaan Dukkha Samudaya Ariya Sacca, kebenaran mulia tentang akhir penderitaan Dukkha Nirodha Ariya Sacca, dan kebenaran mulia tentang jalan menuju akhir penderitaan Dukkha Nirodha Gamini Patipada Ariya Sacca. Terdapat juga dalam diri Beliau, dengan segala kemurniannya, pengetahuan tentang keberadaan "kebenaran mulia" Sacca-nana, pengetahuan tentang perlakuan yang diharapkan terhadap "kebenaran mulia" itu Kicca-nana dan pengetahuan tentang telah dipenuhinya perlakuan yang diharapkan terhadap "kebenaran mulia" itu Kata-nana, dengan demikian Beliau mencapai "Sabbannuta-nana" Bodhi-nana dari seorang Buddha. Sejak saat ini Beliau dikenal sebagai Buddha Gotama. Dalam hal ini, perlu dicatat jika "Empat Kebenaran Mulia", dengan tiga aspek tersebut di atas jadi keseluruhan ada 12 cara telah benar-benar jelas bagi Beliau, barulah Sang Buddha mengumumkan kepada umat manusia, para dewa, dan para brahma, bahwa Beliau telah mencapai "Penerangan Sempurna", dan menjadi seorang "Buddha". Pada saat pencapaian tingkat ke-Buddha-an, Beliau membabarkan syair 153 dan 154 berikut ini Dengan melalui banyak kelahiran aku telah mengembara dalam samsara siklus kehidupan. Terus mencari, namun tidak kutemukan pembuat rumah ini. Sungguh menyakitkan kelahiran yang berulang-ulang ini. 153 O, pembuat rumah, engkau telah ku lihat, engkau tak dapat membangun rumah lagi. Seluruh atapmu telah runtuh dan tiangmu belandarmu telah patah. Sekarang batinku telah mencapai "Keadaan Tak Berkondisi" Nibbana. Pencapaian ini merupakan akhir daripada nafsu keinginan. 154 ™]˜ Sumber Dhammapada Atthakatha —Kisah-kisah Dhammapada, Bhikkhu Jotidhammo editor, Vidyasena Vihara Vidyaloka, Yogyakarta, 1997.